Terlahir sebagai anak kedua dari tiga bersaudara dari keluarga petani di sebuah desa di kaki gunung batukaru, tepatnya Desa Gesing yang merupakan wilayah Kabupaten Buleleng – Bali. Pada hari Jumat Kliwon wuku Sungsang, tanggal 24 Februari 1978, yang bertepatan dengan hari Sugihan, setelah seorang ibu ngayah bersih-bersih di panti Dadia Yehsong dan selesai persembahyangan, terlahirlah seorang bayi laki-laki dengan pertolongan Bidan Putu di Desa Banyuatis.

Untuk mengingat patokan hari lahir, maka bayi itu diberi nama I Made Sugi Ardana. I menandakan jenis kelamin laki, Made menandakan anak ke kedua. Mungkin kedua orang tuaku berharap kelak aku menjadi anak yang bersih lahir bathin yang merupakan makna dari kata Sugi. Sehari-hari aku biasa dipanggil Kadek, sebutan informal untuk nama Made.

Masa Sekolah Dasar dilalui di SD No 2 Gesing, yang terletak sekitar 1 km dari rumahku. Tiap hari dilalui dengan jalan kaki, karena memang hanya ada jalan setapak dan tidak bisa dilalui kendaraan, dan juga keluargaku tidak punya kendaraan. Tempat tinggalku terisolasi, teman terdekatku namanya Dek Lotong, berjarak sekitar 200 meter, dan itupun harus melalui jalan setapak naik turun dan berliku-liku. Praktis semasa SD aku hanya main dengan kedua saudaraku yang perempuan dalam permainan di alam bebas. Kebetulan di sebelah rumah ada hamparan sawah, biasanya aku ikut membajak sawah (baca ngerecokin) naik tenggala/lampit yang ditarik oleh sapi. Terutama pada saat melasah, bisa puas bermain lumpur dan menaiki lampit.

Setelah padi ditanam (nandur), jamannya berburu klipes, blauk, dan katak yang biasanya banyak ada di sela-sela tunas padi. Tiga binatang ini bisa dijadikan lauk yang sangat nikmat. Suara katak biasanya saling bersahutan kalau sudah jamannya tiba. Katak yang sudah besar dinamakan godogan, jenis ini yang biasanya diburu dengan sejenis tombak, karena dagingnya banyak.

Saat padi semakin besar dan mulai berbuah hingga menjelang panen, blauk berubah menjadi capung. Ini saatnya berburu capung dengan menggunakan getah pohon kamboja yang disebut dengan engket yang lengket. Kalau capung sudah nempel di engket, maka tidak bisa lepas lagi. Jenis capung yang paling enak namanya capung mangkok yang warnanya merah dan ukurannya relatif besar. Ini salah satu lauk enak hingga menjelang panen padi. Bersamaan dengan itu di tanah kebun biasanya lagi banyak-banyaknya ada belalang dan jangkrik. Ini juga saatnya berburu belalang dan jangkrik untuk dijadikan lauk. Jangkrik ada dua jenis yaitu jangkrik kalia yang biasanya untuk dimakan, dimana suaranya berdering dan satu lagi jangkrik kalung yang biasanya untuk aduan. Kebetulan aku tidak suka mengadu jangkrik, jadi tidak punya cerita menarik tentang jangkrik kalung, hanya sekedar tahu.

Hingga kelas 2 SD aku termasuk anak pendiam tetapi nakal, bahkan suka berantem sepulang sekolah. Suatu saat pas jam istirahat aku bermain di depan sekolah dan entah kenapa aku sampai tercebur ke got hingga pingsan sampai seluruh pakaian basah dan kotor. Sampai di rumah, karena takut dimarahi, aku mengaku membersihkan saluran air depan sekolah, dan orang tuaku percaya saja. Beberapa hari berselang ada orang dewasa yang biasa jualan kain, yang kebetulan menolong saat aku pingsan, menyampaikan fakta sebenarnya kepada orang tuaku. Saat itulah aku dimarahi oleh bapakku dan aku kapok.

Ini juga yang membuat prestasiku di sekolah sejak saat itu meningkat, dan hingga menamatkan SD pada tahun 1990 menjadi yang terbaik, bahkan saat penerimaan SMP termasuk NEM tertinggi saat itu. Saat aku SD sedang digiatkan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) yang salah satu kegiatannya adalah belajar berkelompok. Rumahku yang di tengah kebun jadi ramai karena sering dikunjungi teman-teman untuk belajar berkelompok, bahkan kadang-kadang semua teman sekelasku datang dan aku dipercaya berperan sebagai ‘guru’.

Disamping diisi kegiatan belajar, juga diisi dengan kegiatan bermain. Kebetulan aku diberi hadiah sepeda BMX Marubeni karena prestasi di sekolah bagus dan juga hasil panen cengkeh sedang bagus. Pas musim rambutan, biasanya juga diisi dengan ritual memetik rambutan, bahkan kadang ada teman-teman yang membeli rambutan.

Masa kecilku termasuk sangat berbahagia, meski secara ekonomi paspasan, keluargaku sangat menyayangiku, tetapi tidak memanjakanku. Memiliki banyak teman yang sangat baik.