Uji Coba Naik MRT

Naik MRT

Hari ini ada meeting dengan klien untuk persiapan migrasi data. Lokasi kantor klien di daerah Sudirman sangat dekat dengan Stasiun MRT Setiabudi Astra. Selesai meeting mendapat informasi dari driver kantor kalau posisi masih di klien lain di daerah Matraman dan baru akan meluncur ke Sudirman jam 6-an. Sepertinya harus menunggu sejam lebih kalau ikut jemputan kantor.

Kami berempat, baru saya yang sudah merasakan naik MRT ketika masa uji coba. Maka untuk memuaskan rasa ingin tahu naik MRT teman-teman, kami pun sepakat naik MRT untuk balik kantor di daerah Citos. Kebetulan saya membawa E-Money dari Bank Mandiri, teman yang lain menggunakan Flazz BCA dan yang lain menggunakan TapCash BNI.

Sampai di pintu masuk stasiun Setiabudi Astra yang letaknya underground, pada anak tangga sebelah kiri terdapat tanda anak panah untuk turun dan pada sebelah kanan terdapat tanda anak panah untuk naik. Namun masih ada saja yang melanggar. Mungkin tertib belum menjadi budaya dan kebutuhan bangsa ini.

Lalu calon penumpang melewati metal detctor dan dijaga oleh petugas keamanan. Selanjutnya terdapat loket untuk membeli tiket, bagi yang tidak memba wa kartu pembayaran elektronik. Karena kami sudah membawa kartu masing-masing, maka melakukan tap pada pintu yang telah disediakan, akan terlihat saldo yang ada di kartu. Selanjutnya menunggu kedatangan MRT yang estimasi waktunya dapat dilihat pada display. Stasiun cukup ramai karena bertepatan dengan jam bubaran kantor. Pada pukul 17.16 akhirnya armada MRT datang, lebih cepat 2 menit dari estimasi waktu yang ada di display.

Kami kebagian berdiri di gerbong 6. Lalu saya share foto pengalaman naik MRT di group alumni ITS. Salah seorang teman yang menyelesaikan PhD di negeri sakura dan cukup lama tinggal di sana memberi komentar bahwa suasana stasiun seperti di Jepang. Sebagian menimpali wajah saya mirip orang Jepang yaitu Jepang gosong.

Setengah jam perjalanan kami sampai di Stasiun Fatmawati, stasiun terdekat dengan lokasi kantor yaitu di Cilandak Town Square, yang lebih familiar dengan sebutan Citos. Pada pintu keluar melakukan tap kartu pembayaran elektronik, dan saldo terpotong Rp. 5.500, karena masih periode diskon 50%.

Pada anak tangga juga terdapat tanda naik dan turun, bahkan dipisahkan dengan railing pembatas, namun tetap saja ada yang melanggar dengan turun di anak tangga yang seharusnya untuk naik. Sepertinya bangsa ini masih perlu latihan untuk disiplin.

Dari stasiun ini dilanjutkan dengan berjalan kaki dan menyeberangi traffic light. Seandainya terdapat shuttle bus dari Stasiun Fatmawati ke Citos tentu akan lebih nyaman. Atau kalau saja trotoar di sepanjang jalan RA Kartini dan jalan TB Simatupang senyaman trotoar jalan Sudirman tentu akan terasa nyaman meski berjalan agak jauh. Mudah-mudahan saja suatu saat nanti ada. Sekian cerita hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.