Pemilu Pilih Siapa?

pemilu-pilih-siapa

Sepertinya pemilihan caleg, ataupun capres pada pemilu itu tidak jauh beda dengan memilih pasangan. Ada beberapa cara orang memilih pasangan. Ada yang bebas memilih pasangan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkannya. Ada yang memilih berdasarkan kriteria orang lain yang juga dirasa sesuai dengan kriterianya. Namun ada juga yang tidak memiliki kuasa untuk memilih pasangan, sehingga manut berdasarkan pilihan orang lain.

Pada pemilih yang sepenuhnya bebas memilih, maka ditetapkan dulu kriterianya apa saja. Misalnya pasangan harus dari keyakinan yang sama, cantik, tinggi, kaya, hemat di dapur, romantis di tempat tidur dan sebagainya. Pada masa pencariannya kerap kali tidak memenuhi semua kriteria. Misalnya soal keyakinan, dirinya sudah yakin banget bahwa si calon pasangan akan menerimanya, ternyata calon pasangannya tidak yakin, maka tidak bisa jadian. Tidak menjadi pasangan karena beda keyakinan. Atau sudah mendapatkan pasangan yang keyakinannya sama dan cantik, namun ternyata kurang tinggi. Atau sudah hampir semua kriteria dipenuhi, namun ada yang tertukar-tukar saat sudah menjadi pasangan. Misalnya kriterianya adalah hemat di dapur dan romantis di tempat tidur, ternyata menjadi romantis di dapur alias minta dimasakin terus karena tidak bisa memasak dan hemat di tempat tidur. Setidaknya apapun yang terjadi setelah mengikatkan tali kasih, itu adalah pilihan sendiri yang dipilih atas kesadaran sendiri tanpa campur tangan orang lain.


Untuk yang memilih berdasarkan kriteria orang lain, ceritanya lain lagi. Misalnya saya tertarik dengan seseorang yang wajahnya manis dan lembut, pokoknya sudah pas banget. Tiba-tiba ada teman dekat yang komentar kutilang darat – kurus tinggi langsing dada rata – lalu menjadi ragu dan urung untuk memilihnya sebagai pasangan. Kelak ketika ternyata sudah dipersunting orang lain jadi merasa menyesal. Kenapa ya dulu mendengarkan suara-suara orang lain, mengapa tidak yakin saja dengan pilihan sendiri.

Lain lagi yang pasangannya dipilihkan olah orang lain. Misalnya dipilihkan oleh para orang tua. Mereka sudah sepakat untuk menjodohkan anak-anaknya karena sudah ketahuan bibit bebet bobotnya. Dilengkapi dengan janji surga bahwa nanti pasti bahagia dan akan terjamin lahir bathin, walaupun rasanya tidak sreg karena bertolak belakang dengan kriteria sendiri. Endingnya bisa aja sesuai dengan janji awal, namun bisa juga bertolak belakang sama sekali. Maka tidak ada pilihan selain menjalaninya saja secara ikhlas, karena tidak punya kuasa.

Pada pemilu kali ini sepertinya pemilih juga terpolarisasi dalam 3 kelompok ini. Ada yang berkehendak bebas menentukan pilihannya tanpa campur tangan pihak lain. Ada juga yang sekedar ikut-ikutan pilihan orang lain. Terakhir ada juga yang manut saja dengan yang telah ditentukan olah pihak lain. Kita kemungkinan termasuk salah satu dari kelompok itu. Yang terpenting mudah-mudahan pemilu berjalan dengan lancar, aman, dan damai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.