Defragmenting Diri
Setelah cerita singkat tentang doa yang indah, ada inspirasi indah yang layak dipetik hikmahnya berikut ini.
Oleh: Prabu Darmayasa
Suatu ketika, sekitar tahun 1992/93-an atau sekitar tahun-tahun itu, saya mengajak almarhum Cokorde Raka Pemayun jalan-jalan menelusuri pinggiran kota New Delhi, sambil membelikan buku-buku tentang Agni Hotra. Pak Cok sangat senang diantar mengenal kota Delhi, khususnya deretan toko-toko buku. Tetapi Pak Cok selalu berdesah sambil mengintip wajah saya yang kusam karena 6 orang yang saya bantu membayarkan tiketnya ternyata menghilang tanpa berita.
Bersama Pak Cok saya mencari ke alamatnya di daerah seberang sungai suci Yamuna, namun ternyata orangnya lenyap tanpa pesan. Kecemasan sangat mengganggu kesadaran dan wajah saya. Setelah Pak Cok kembali ke Indonesia, saya segera memohon bantuan GuruJi. Guru Ji kalau melihat wajah saya sedih biasanya beliau tidak tahan. Dan memang Guru Ji langsung masuk kamar sucinya ketika saya laporkan kejadian itu. Tiada lama kemudian beliau keluar kamar dan berkata, “Lain kali jangan mengumbar kebaikan seperti itu. Tapi kau jangan khawatir. Orang itu segera akan datang membayar tiketnya…” Dan memang, keesokan harinya orang itu tanpa dicari datang ke rumah membawakan uang tiket.
Sekarang pun, kalau saya ingat-ingat kejadian itu, saya menjadi agak terganggu. Semoga cerita ini mengingatkan kita semua agar membatasi diri menolong orang tanpa kita harus menjadi stress berat tanpa alasan.
Tiba di rumah setelah jalan-jalan bersama Pak Cok ke tempat yang saya ceritakan tadi, saya segera menghidupkan komputer agar pikiran teralihkan ke hal lain. Pak Cok sangat pintar mengintip kesempatan menjauhkan pikiran saya dari gangguan masalah serius itu. Melihat cara kerja komputer saya agak lambat, dengan nada suara agak tinggi Pak Cok menjelaskan bahwa dalam merawat komputer ada yang namanya defragment.
Sebelum di defragmented semua file-file tempatnya tidak teratur dan semrawut. Selain mengganggu sistem kerja komputer kita melihatnya juga tidak senang karena serba tidak teratur.
Begitu pula keadaan kesadaran/kepala kita, ternyata kita terlalu banyak menempatkan dan memasukkan dengan paksa bubur “Kichrii”[1] ke kepala kita serta alpa merapikan tempat-tempat atau ruang di kepala kita dari apa-apa yang kita masukkan ke kesadaran kita. Segala apa yang kita dengar, segala apa yang kita lihat, tanpa pertimbangan baik-buruk, benar-salah, semua itu kita biarkan masuk dan mengacaukan kesadaran kita. Bahkan kadang kita sendiri sadar sesadar-sadarnya dengan paksa memasukkan segala “sampah-sampah” tersebut ke kepala atau kedalam kesadaran kita tanpa pertimbangan dan tanpa kebijakan indah yang bernama ‘Viveka’.
Vivekaartinya daya mempertimbangkan baik-buruk, benar-salah, spiritual-tidak spiritual, agama-tidak agama, material-spiritual, menguntungkan-merugikan dan lain-lain. Sangat disayangkan bahwa kita tidak mempertimbangkan baik-buruk dari segala sesuatu tersebut. Kita hanya memasukkan dan memasukkan ke kepala kita tanpa rasa bertanggung-jawab sedikit pun kepada kesadaran kita, tanpa merasa kasihan pada diri kita sendiri. Kita manfaatkan diri dan kesadaran kita tidak kurang dan tidak lebih hanya dan hanya sebagai keranjang sampah. Terkadang kita perlakukan dia sebagai tong sampah dalam bentuk ember buruk yang sudah tidak terpakai, terkadang tempat sampah dari tas kresek/plastik, terkadang ia berbentuk indah seperti yang dijumpai di hotel-hotel berbintang 5. Tetapi, walau ia berada di kamar indah ruang hotel berbintang lima dalam bentuk bersih bagus, ia tetap kita pergunakan sebagai tempat penampungan sampah…
Tidak kurang dan tidak lebih kita telah memanfaatkan badan dan kesadaran kita seperti itu, yaitu saya ulangi lagi dengan penggarisbawahan huruf tebal, hanya sebagai tong sampah. Coba sesekali kita lihat dan perhatikan bagaimana orang-orang membuang sampah?
Mereka membuang begitu saja secara sembarangan. Tidak menempatkan, tetapi membuang. Semua yang pecah-belah dan busuk-busuk dimasukkan dengan paksa ke sana.
Akhirnya ruang yang tersedia kini menjadi tidak ada sama sekali karena telah terisi penuh dengan kotoran dan barang pecah belah yang telah hancur.
Sekarang kita lihat di kamar kita sendiri atau di dalam almari kita di rumah, ternyata kita juga memasukkan barang-barang yang tidak keruan-keruan dengan cara tidak keruan-keruan. Asal meletakkan, asal menempatkan dan apa yang kita bawa kita juga tidak tahu. Uniknya lagi, kita juga tidak tahu untuk apa kita membeli, membawa serta menempatkan barang-barang tersebut di sana? Akhirnya tempat/ruangan kita menjadi kepenuhan karena ketidakteraturan penempatan barang-barang. Kesadaran kita menjadi penuh dan jenuh tanpa alasan, karena kita secara tidak bertanggung jawab tanpa sadar telah memasukkan begitu banyaknya hal-hal, masalah-masalah, serta ketegangan-ketegangan duniawi kedalamnya.
Kita telah menyiksa diri kita tanpa alasan. Banyak masalah-masalah yang sebenarnya kita tidak perlu masukkan dan simpan di dalam kesadaran kita, tetapi kita paksa menyimpannya dengan “penuh keterikatan” dan penuh kecemasan
sampai-sampai kita harus stress berat berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, bahkan juga seumur hidup. Untuk apa semua itu???? Mengapa kita tidak segera mengadakan program degrafmenting kesadaran???
Kalau seseorang ingin maju terus dengan aman di dalam perjalanan spiritualnya, maka sekali-sekali ia harus dengan tegas mengadakan defragmenting kesadaran dalam hidupnya.
Sumber: HDNet
